Kamis, 29 Maret 2012

Bau mulut Ternyata bermanfaat

Nafas bau naga atau mulut bau naga sering diucapkan orang untuk menggambarkan bau mulut yang tidak sedap.Banyak orang yang minder dan tidak pede karena bau mulut itu. Namun ternyata bau mulut itu ada manfaatnya.
Hal tersebut dibuktikan oleh peneliti gigi di Jepang yang telah menemukan bahwa halitosis atau bau mulut juga berguna, yaitu sebagai inkubator ideal untuk budidaya sel hepatik (hati).
Dalam temuan yang bisa memiliki dampak luas bagi penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson, sel punca (stem sel) dipanen dari pulpa gigi manusia menjadi sel-sel hati pada tingkat yang mengagumkan ketika diinkubasi dengan hidrogen sulfida, senyawa kimia yang bertanggung jawab untuk bau mulut.
medindia.net
Terapi stem sel menyembuhkan jaringan yang rusak dengan memperkenalkan sel-sel baru, tetapi kadang-kadang bisa sulit untuk keamanan dan keefektifan menghasilkan sel-sel baru.
Penulis studi Dr Ken Yagaeki dan timnya di Nippon Dental University percaya penggunaan stem sel dari pulpa gigi akhirnya bisa menggantikan metode produksi stem sel yang sudah ada, dua di antaranya menggunakan sumsum tulang manusia dan serum janin sapi sebagai bahan sumber. Bahkan, Dr Yagaeki mengambil risiko untuk menunjukkan bahwa pulpa gigi adalah sumber yang layak untuk stem sel.
“Meskipun tidak ada yang melaporkan regenerasi jaringan dari pulpa gigi, saya memiliki hipotesis bahwa pulpa gigi akan menjadi sumber stem sel somatik yang baik. Tentu saja semua orang menolak hipotesis saya. Dalam pertemuan International Association for Dental Research, seorang ketua memanggil kami sebagai orang bodoh” jelas Dr Ken Yagaeki, seperti dilansir MSNBC, Jumat (2/3/2012).
Meskipun ada beberapa sikap skeptis dari rekan-rekannya, Dr Yagaeki melaporkan bahwa 60-80 persen dari sel pulpa gigi manusia adalah stem sel, naik tajam dari perkiraan sebelumnya yang hanya 1 persen.
Dan setelah penemuannya dibenarkan, Dr Yagaeki tampak menguji dampak dari halitosis (bau mulut) pada pengembangan stem sel menjadi sel hati.
Hasil studi telah dipublikasikan dalam IOP Publishing’s Journal of Breath Research

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar